Makam Raja Sidabutar, Objek Wisata Megalitikum di Samosir
Ketika berkunjung ke Medan tentu Pulau Samosir menjadi salah satu lokasi tujuan anda. Pulau yang memiliki keanekaragaman budaya serta berbagai lokasi wisata ini memang menjadi pilihan para wisatawan untuk menikmati liburan dengan sejarah yang sangat kental dengan suku Batak Samosir.
Salah satu lokasi wisata yang juga merupakan peninggalan sejarah yang tetap di lestarikan dan masih terjaga dengan sangat baik adalah Makam Raja Sidabutar. Makam Raja Sidabutar merupakan sebuah makam yang terbuat dari batu alam yang berukir kepala manusia. Makam ini hanya di peruntukkan untuk kerabat Raja saja. Untuk lokasinya sendiri yaitu terletak di desa Ambarita, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir.
Makam ini tak hanya sebuah makam saja, selain memiliki keunikan di banding makam pada umumnya. Terdapat cerita tersendiri di balik Makam Raja Sidabutar ini. Makam ini tidak tertanam di bawah tanah seperti makam-makam pada umumnya, melainkan terletak di atas permukaan tanah. Sehingga pengunjung yang datang pun dapat menyaksikan keunikan dari makam ini.
Selain Makam Raja Sidabutar, terdapat juga 3 makam lainnya yang terletak di sekitar makam raja. Makam tersebut adalah kerabat raja yang memang sengaja di makamkan di sekitar makam raja sebagai bentuk penghormatan oleh raja
Menurut cerita konon Raja Sidabutar merupakan salah satu raja Batak yang memiliki kesaktian luar biasa. Kesaktian raja terletak pada rambut gimbalnya yang menjadi ciri khas raja tersebut. Rambut gimbal tersebut tidak boleh di potong hingga seumur hidup sang raja. Ketika rambut gimbal tersebut jatuh atau lepas, maka rambut tidak boleh di buang melainkan harus di simpan dan di ikat di ujung tombak yang bernama Tunggal Pangalung yang kini telah tersimpan rapi di museum Batak, Sumatera Utara.
Makna Warna Dalam Masyarakat Suku Batak
Selain cerita tentang Raja Sidabutar, saat berkunjung kesana tentu anda akan melihat ada sebuah kain yang terikat rapi di makam sang raja. Kain yang berwarna putih, merah dan hitam ini ternyata memiliki simbol tersendiri. Dimana warna putih yang di artikan kesucian (surga), warna merah yang berarti ketenangan (bumi), dan hitam yang di artikan sebagai warna bawah tanah (kematian).
Untuk para pengunjung yang datang pun juga di wajibkan untuk memakai kain ulos. Kain ulos merupakan kain adat suku Batak Toba. Kain ini adalah lambang kehormatan yang di peruntukkan untuk mendiang sang raja sebagai bukti penghormatan kepada beliau.
Selain pengunung yang harus mengenakan kain ulos, pengunjung yang datang pun juga harus di temani oleh seorang pemandu. Pemandu akan menemani anda selama di sana sambil menceritakan berbagai kisah mengenai Raja Sidabutar dan juga para kerabatnya di jaman dulu. Kini situs warisan budaya ini tetap terlestarikan meski sudah berada di era modern seperti saat ini. Dan masih menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi para wisatawan.